Rodinda Part 2

Saturday, December 15, 2018 0 Comments A + a -


Dari waktu yang dijanjikan sejak Rodinda Part 1 dipublikasikan, penulisan Rodinda 2 memakan waktu yang cukup lama. Bukan karena proses menulisnya, tapi karena belum ada prioritas yang dapat menggeser kesibukan skripsiku dan film dokumenter Bantengan. Baiklah.

Tadinya rodinda ini akan kuisi dengan tulisan mengenai arti Rodinda itu sendiri dan perjalanan menyenangkan selama di Malang. Tapi, menurutku ada hal yang lebih ingin kutuangkan di tulisan ini, sebagai bentuk syukur atas perjalanan yang telah aku lewati selama kuliah. Anggap saja, ini sebagai tulisan perpisahanku (seperti biasa) dipenghujung tahun dan surat terimakasihku terhadap diriku sendiri karena sudah hampir menyelesaikan studi. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi catatan perjalan hidupku yang kelak akan semakin tumbuh besar dan berjalan semakin jauh. Ya kita pernah berada di titik ini sayang.

Oke, saat ini aku sedang berada di perpustakaan Bandung Creative Hub. Perpustakaannya sangat ramah untuk anak-anak. Jadi mayoritas rak bukunya pun terisi buku anak-anak. Namun saat aku menjelajah rak buku lainnya, khususnya di rak buku non fiksi, terselip satu buku Dr. Sarah Anais yang berjudul ; Raga Kayu Jiwa Manusia. Sebelumnya aku pernah menghadiri diskusi yang dipimpin Dr. Sarah bertema ; Mencari Pribumi. dan aku kagum terhadap kecerdasannya. Ya perempuan kebangsaan Prancis ini dapat mengenal kebudayaan wayang golek dari Sunda dengan baik, sedangkan aku yang berdarah sunda asli, hanya mengenal kulitnya saja. Menikmati pagelarannya saja sudah terkantuk-kantuk. Selain itu, kekagumanku terhadap Sarah jatuh karena ia seorang perempuan dari “Barat” yang mungkin tidak asing kalau disana, meneruskan studi hingga jenjang S3 dan melakukan penelitian lama di negeri orang.

Nah saat aku membaca bukunya, aku membaca nama-nama yang tidak asing ditelingaku salah satunya H. Dadan Sunandar Sunarya. Aku menebak-nebak sepertinya ini nama tokoh yang berasal dari Jelekong. Dibaca lebih jauh ternyata benar. Di tahun 2017, aku pernah membuat film dokumenter berjudul Gurat di Desa Jelekong, makanya sangat familiar bagiku, mendengar nama tersebut. Setelah itu, ia menjelaskan budaya-budaya Jawa, karakteristik masyarakatnya dan lain-lain. Sebelumnya aku juga sangat asing dengan budaya Jawa. Karena menurutku budaya Jawa sangat mistis dan biasanya keluargaku menjauhkan ku dari hal-hal tersebut, karena takut syirik. Tapi setelah membuat film dokumenter Bantengan yang ikut berbaur selama 10 hari dengan berbagai macam tokoh dengan perspektif yang berbeda-beda terhadap satu objek yang sama di Malang, aku jadi mendapat gambaran utuh tentang budaya Jawa sendiri, sehingga tipis sekali stereotype yang ku simpan. Karena stereotype tersebut bisa ditangkis dari berbagai sudut pandang yang telah aku dapatkan dari interaksi yang telah kami lakukan. Dapat tidak maksudnya?

Setelah itu aku jadi merenung sambil senyum-senyum. Wah memang kita itu harus melakukan banyak perjalanan yah, banyak duduk bareng bersama kelompok yang beragam, supaya damai hati dan pikiran kita, bahwa perbedaan itu bukan masalah. Justru sebuah anugrah. Dan kita memang harus memaksakan diri mengeluarkan uang yang tidak sedikit, waktu, tenaga dan fokus kita untuk berkelana. Selain itu kita juga harus menggadaikan ketakutan-ketakutan kita serta kekhawatiran kita tentang tanah yang akan kita pijaki nanti. Ya ini aga sulit sih, aku pun masih belum berani kalau solo traveling karena pembawaan pribadiku sendiri masih kaku-kaku gimana gitu, jadi aku mengawalinya dengan berkelana bersama teman-teman dalam berbagai kesempatan. 

Oya yang tidak kalah penting, selalu, selalulah abadikan perjalananmu dengan sebuah karya. Bisa melalui tulisan seperti aku ini, melalui foto, video dan sebagainya. Supaya tidak luntur ingatan kita terhadap hal-hal baik yang telah kita lalui dan kita dapatkan. Dan syukur-syukur semoga karya kita bisa bermanfaat untuk orang-orang disekeliling kita nantinya.  

Balik lagi ke Rodinda yuk! Awal aku mendapatkan kalimat sakti Rodinda adalah dari diskusi bersama Ki Cokro di padepokannya. Beliau bilang, apa yang adik-adik sedang lakukan saat ini (maksudnya perjalanan membuat dokumenter dari Bandung ke Malang) harus memenuhi Rodinda. Apa itu Rodinda? Rodinda adalah singkatan dari istilah Romantika, Dialektika dan Dinamika.

Maksudnya apa? Ya ketika kita sedang melakukan sebuah perjalanan, jangan hanya menekankan sisi Romantika, bersenang-senang dengan teman-teman, hihi haha di perjalanan, atau icip-icip kulinernya saja. Tapi dalam perjalanan tersebut, harus dibarengi dengan Dialketika. Kalau Socrates bilang, dialektika ini akan membantu kita untuk mendapat pengetahuan baru. Banyak bertanya, banyak berdiskusi, cari tau banyak hal tentang kota tersebut pasti akan membuat perjalanan kita berkesan. Dan yang terakhir, harus dinamis. Jalan dari satu tempat ke tempat lain. Dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Supaya ragam perspektif dalam perjalanan kita semakin beragam.

Nih ya, salah satu kelemahan kita tuh kalau sedang main ke satu kota, kita malah malas eksplor. Maunya menetap aja di pengeniapan atau di rumah saudara yang kita tinggali. Waktu aku di Malang, aku dan teman-teman sering makan di luar lalu jalan kaki menyusuri kota setelahnya. Pernah suatu ketika kita mampir di sebuah gedung yang sedang menyelenggarakan Ludruk. Wah itu pengalamanku pertama kali liat Ludruk secara live. Sebelumnya aku juga bahkan gatau Ludruk itu apa, setelah di tengok, ohhh lenong dengan bahasa Jawa. Hal tersebut mungkin ga bakal aku temui kalo tim ku ini ga dinamis. Iya gak sih? 

Nah jadi, menurutku Rodinda adalah sebuah konsep keseimbangan. Kita harus bersenang-senang yang berisi. Tapi jangan juga kalau jalan-jalan terlalu serius, terlalu tegang. Karena nanti lelahnya tidak akan terbayar ya kan? Iya dongg! Dan satu lagi harus dinamis, biar nyoba dan nemu banyak hal baru. 

Sekarang coba ingat-ingat, selama ini sudah sampai manakah tahap jalan-jalan kalian? Sudahkah mengandung ketiga unsur ini? Kalau belum, coba dilengkapi, siapa tau dapat pengalaman yang sebelumnya tidak pernah kalian bayangkan! :D Selamat menempuh jalan jauh~


Menutup Aib Diri Sendiri dan Orang Lain

Thursday, December 13, 2018 0 Comments A + a -

Lagi rame kan soal #chatime (gausah dicari plis hastag ini) di twitter dua hari ini. Aga kaget karena awalnya aku tau info tersebut ketriggered dari link video musik yang adik aku kirim. Wah, rame banget tuh di twitter. Banyak yang ocol dan jadiin hal tersebut bahan bercandaan. Produser kita pun sempet oper bahasan tersebut, sayangnya aku dan Bano udah kepo lebih dulu, jadi nyambung. LOL.

Setelah bercanda-canda tiba-tiba aku jadi ga enak hati aja. Gelisah. Astaghfirullah ko bisa-bisanya ngumbar dan jorjoran liat aib orang. Meskipun selayaknya "yang digosipin" juga jaga aibnya sendiri, tapi ya kita juga gamesti ngompor-ngomporin orang ya kan? Padahal kita juga pasti punya hidden sins masing-masing yang menjijikan buat diketahui dan diliat orang lain. 

Baru-baru ini juga kita dengar dan baca di media, ada gugatan dari ibu-ibu yang pengen iklan Black Pink berhenti tayang. Meskipun banyak generasi millenial yang kulihat kontra, tapi menurutku keresahan mereka ga salah-salah amat cuy. Kalau dalam teori komunikasi, hal-hal yang dipaparkan dari totonan di media itu bisa punya efek di masa depan. Hal tersebut terangkum dalam teori kultivasi. Coba deh fenomena free sex remaja-remaja sekarang, apakah ga mau dicurigai dari tontonan bebas kita masa kini? Dari yang samar-samar sampe yang terang-terangan. YaAllah merinding hati karena sebagai orang yang senang sekali menonton film dan penggiat produksi film, aku juga mulai paham sedikit-sedikit soal hal tersebut. Dan aku juga sudah terbiasa melihat yang tidak senonoh, karena yah yaudahlah yaa gitu aja. Dan teman-temanku pun mewajarkannya. 

Padahal apa, Imam Syafi'i saja yang waktu itu "tidak sengaja" melihat betis seorang wanita, konon langsung kehilangan satu juz hapalan Qurannya. Rabbanna'ghfirlanaa. Kita? Malah sengaja menontonnya dan menikmatinya. Makanya ga aneh kalau dari melihat sudah mewajarkan, melakukanpun akan sangat mudah diwajarkan. Percayalah godaan syaitan itu lemah, kalau godaan syaitan kita terasa lebih kuat, artinya iman yang menyinari hati kita sedang atau sudah redup sejak lama. 


Artinya : "Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah." (Q.S An-Nisa : 76)

Yaudah intinya stop di kamu. Gausah diperpanjang lagi masalahnya dan kepo-kepo lagi ya. Yuk kita banyakin istighfar, banyakin minta ampun buat diri kita sendiri dan remaja muslim di Indonesia. Semoga Allah jaga mata hati kita, untuk melihat hal-hal yang haq saja :) 

Penyesuaian

Monday, November 26, 2018 0 Comments A + a -

Mungkin karena merasa sebentar lagi akan lulus, yang padahal ini skripsi masih stuck aja, aku jadi banyak overthinking bulan ini. Penyesalan-penyesalan kenapa dulu di kampus ga aktif menguap lagi, Ketakutan karena ga punya apa-apa ketika mau kerja, minim pengalaman, dsb muncul kepermukaan. Pokoknya stress banget tapi sekarang sudah ke handle karena banyak diskusi, nonton ceramah dan baca buku. 

Entah ini mau pembelaan atau gimana tapi kalau ditarik garis waktu, emang dari awal aku sudah memilih untuk aktif di jalan-jalan yang sepi. Salah satunya pengen mulai menghafal Quran. Tapi sayang ini ga konsisten, jadi target belum kacapai, yang sebenarnya masih bisa aja dikejar, cuma perebutan sama prioritas lain. Terus sebenarnya ga berarti ga aktif juga sih, aku aktif di beberapa kegiatan dan ketemu banyak orang, cuma ga bisa netep disatu tempat, karena ya ga betah dan bosan, dan aku juga ga ngerti kenapa bisa ga se-passionate seperti dulu. Sepertinya aku  memang sudah sangat sangat mual banget sama atmosfer organisasi. Mungkin waktu SMP-SMA aku terlalu overdosis aktif dilingkungan seperti itu.  Jadi ya sekarang udah ga terlalu interest. Cuma kalo coach di NLP bilang, itu bukan karena aku pemalas, atau aku tertutup, itu tandanya aku sudah mulai bisa memilih sesuatu untuk diriku sendiri. Postif sekali :) 

Bicara soal aktif di organisasi, ternyata kolektivitas yang kental di masyarakat Timur ga selalu bagus. Dengan terlibat secara intens di dalam sebuah kelompok, kita akan semakin menyesuaikan diri dengan hal-hal yang disepakati didalamnya. Dan independensi terhadap sesuatu, seperti pemikiran, sikap akan mulai terkikis, karena ya tadi mencoba untuk fit in dan sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang kelompoknya akan menggadaikan idealisme pribadi bahkan kepercayaan diri untuk tampil beda. Yang padahal berdikari adalah stimulus untuk berpikir, berperilaku dan menciptakan karya-karya kreatif.

Hemmm, ketika membaca uraian-uraian tersebut di bukunya Ng Aik Kwang, Asia Vs Barat, aku jadi manggut-manggut kepala. Aku masih ingat betapa dulu aku begitu percaya diri tampil beda dan melakukan hal yang beda (tentunya produktif) kemudian sedikit demi sedikit luntur karena terlalu lama menetap secara kelompok di pesantren. Ya mau tidak mau aku jadi terwarnai, dan sangat menghargai nilai-nilai atau kebiasaan (baik yang baik atau yang buruk) yang dianut oleh kelompok tersebut. 

Bukan ingin menyalahkan, tapi sepertinya ruang privasi itu memang harus dijaga dan dibina, agar punya pendirian sendiri dalam memandang dunia. Kenapa mesti kreatif? Kreatif itu bukan cuma soal hiburan, kreatif itu juga sebuah jembatan pemecahan masalah. Dan dunia kita ini banyak masalahnya. Cuma sampah dan bangkai ikan yang terbawa arus, aku tak mau. 

Nah kalau ngomongin hal kayak gitu, aku jadi bersyukur juga bisa mengenyam bangku kuliah. Awalnya aku memang mengalami culture shock, karena dunia kuliah itu individualis sekali. Teman satu angkatan aja rasanya banyak yang ga kenal, dan terhadap kehidupan pribadi orang, satu sama lain ga saling peduli. Tapi dari sini, aku mulai latihan lagi, berdiri di kaki sendiri, dan mulai lagi berani bermimpi dan bertindak yang beda dari orang lain. Karena dalam kesendirian ini, yang kita butuhkan adalah kredibilitas dari skill yang kita punya agar bisa bertahan. Kalau ini dianggap suatu konflik, ya ini ga bisa dianggap tantangan. Tapi kalau mau dijadiin tantangan positif, bisa jadi sesuatu hal baik buat diri sendiri. Wallahu'alam. 

Rodinda Part 1

Sunday, October 21, 2018 0 Comments A + a -

Ada bersyukurnya, di tingkat akhir ini aku mengambil mata kuliah yang sama beratnya dengan skripsi yang sudah ku ambil, mata kuliah produksi film dokumenter. Meskipun serasa mengerjakan TA dan skripsi secara bersamaan, ternyata banyak hikmah yang bisa aku petik, untuk pengembangan diri dan memperkaya pengalaman di proses produksi film tentunya.


My Private Birthday

Thursday, September 27, 2018 0 Comments A + a -

Bandung, 26 September 2018.

Quality Time Yang Lebih Berkualitas

Sunday, September 02, 2018 0 Comments A + a -

Quality time bukan hanya sebuah aktivitas yang memiliki fungsi rekreatif melepas penat dengan orang-orang terdekat kita. Dimana kita isi Qtime tersebut dengan saling bersenda gurau, meluangkan waktu untuk duduk dan ngobrol ngalor ngidul berjam-jam. Quality time buat saya memiliki arti lebih dari itu, yang mana ia berarti hadir, memusatkan perhatian dengan membicarakan hal-hal prinsipal juga esensial yang mau kita bangun bersama.

Saya punya seorang partner yang mana dalam beberapa postingan sebelumnya mungkin pernah saya sebut (meskipun itu masih berupa inisal whehe). Kita memiliki kecocokan dalam berpikir dan merasa, yang mana bukan berarti pola pikir, pengalaman dan kepribadian kita sama, tidak. Bahkan kita terlahir dari suku yang berbeda. Kita punya kehidupan masing-masing. Bidang keilmuan yang kita geluti tidak serupa tapi beririsan. Saya hadir di masyarakat sebagai seorang penggiat Quran dan film, ia aktif sebagai seorang penggagas dan pemimpin dibidang sosial dan IT. Meski concern keilmuan kita berbeda, kalau soal visi, kita punya semangat yang sama-sama besarnya. Dan sekarang, langkah-langkah kecil dari mimpi-mimpi besar itu kita sedang bangun, sendiri-sendiri.

Meningkatkan Kualitas Sebuah "Quality Time"

Sunday, September 02, 2018 0 Comments A + a -


Meruntuhkan Ego

Saturday, May 12, 2018 0 Comments A + a -


Hai!!!!!!!!
Pengen nulis yang santai uhuy, mumpung weekend, aku kangen banget nulis semau aku. Mungkin karena akhir-akhir ini bacaanku berat-berat, rasanya sedih liat tulisan sendiri, kurang berisi, jadi selalu mengurungkan niat untuk menulis. Buat sekarang biarinlah yah! Udah butuh banget ruang aktualisisasi diri, kalau disimpan di kepala, pening terus. Mari kita salurkan ke ruang yang lebih positif.

Oke langsung capcus, jadi akhir-akhir ini aku lagi ga terlalu produktif kayak di awal tahun. Ya sempet sih produksi film-film pendek, tapi yaudah ga menang, jadi belum bisa dianggap menghasilkan juga kan. Nah paling ikut kegiatan-kegiatan IMM gitu. Menghidupkan organisasi yang sebelumnya pernah berjaya di kampus. Dan terlepas dari itu, kehidupan santai-santaiku kayaknya cuma dihabiskan dengan honhon. Menghabiskan waktu dengan teman-teman, ketawa-ketiwi, santai-santai, jarang bangetttttt kalau bukan urusan organisasi! T_T 

Dan ternyata kehidupan aku yang sibuk sama urusan organisasi dan kampus kayak gitu, ga sehat banget! Aku sendiri saat ini kan tinggal satu kontrakan, baru sadar kalo kita kemarin ternyata sedang gak baik-baik aja. Setelah, hemm, salah satu anggota Golden Home sering nangis (bukan karena pacar ternyata) dan keadaan di rumah makin dingin dan sepi. Semuanya lebih nyaman ngehabisin waktu di luar rumah. Hem :"

Alhasil ku bukalah pembicaraan-pembicaraan bareng Nilna, mulai tanya tentang kepekaan kita di lingkungan sekitar, ngerasa nyaman ga sih dengan kondisi saat ini. Setelah itu banyak lah quality time kita-kita yang menguras banyak air mata antara aku dengan Nilna, Nilna dengan Viwe, Viwe, Laila & Ruri dengan aku hingga akhirnya semuanya mulai bisa kumpul di ruang tengah lagi dan sering ngehabisin waktu bareng-bareng disana. Senang! 

Aku ga nyangka juga, memperbaiki hubungan itu ternyata bisa kok. Meruntuhkan ego itu bisa diusahakan koo. Ngembaliin keadaan seperti semula bisa juga kok! Tapi ya aku-akuin memang agak sedikit tricky. Coba ajak belanja make-up, jajan jajanan pasar, belanja di pasar kaget, beres-beres rumah, ngobrolin lika-liku asmara, bisa banget nyairin suasana ternyata! Jadi aktivitasnya ga melulu harus hedon, pergi jalan atau makan ke luar. 

Disamping itu, aku pribadi juga sering cerita ke Honhon tentang perkembangan hubungan teman-teman di rumah. Untungnya karena beliau super extrovert dan ahli di bidang manajemen konflik, doi sering ngasih masukan-masukan yang, yaaaa aku harus bisa lebih ngeskenarioin keadaan, coba untuk nahan pertanyaan sarkas yang makin merusak suasana (meskipun ini masih aga susah ditahan) dan tahan mood aku untuk lebih sabar ngehadapin keadaan. Ya bersyukurlah Honhon punya lesung pipi yang bisa aku jadiin role model kalau aku lagi bete, hehe aku harus banyak senyum kayak Honhon! 

Oke begitulah yah, perempuan. Kalau masalahnya sama-sama perempuan, pr banget! Hemm tapi yang pasti aku sendiri punya pegangan sih, kalau aku nyerah, aku gamau juga, karena pengen rumah tetep utuh sampai lulus nanti. Cukuplah dulu di asrama yang ga bisa balik lagi seperti semula. Sekarang jangan. Dan yaaaaaaaaaaaaaaaaaaa kayaknya kita emang sangat butuh liburan deh!!!! :"D

#QuranTalk : Bagaimana Caraku Belajar Murottal?

Friday, March 23, 2018 0 Comments A + a -

Esensinya mengaji itu, khususnya membaca Quran adalah memahami apa kandungan dari yang kita baca. Tapi, membaca Quran dengan benar juga harus! Kalau mengaji dengan indah itu bonus, tapi Allah dan Rasulnya suka. Bahkan seringkali orang yang melantunkan ayat suci al-Quran dengan merdu bisa mengundang hidayah, orang lain jadi tergugah dan bisa memutuskan untuk berhijrah. Dan kabar baiknya, mengaji dengan suara indah itu bisa dipelajari.

Pandanglah Tubuh Kita Secara Positif

Saturday, March 10, 2018 0 Comments A + a -

"Wanita lebih suka mengabdi pada kekinian dan gentar pada ketuaan; mereka dicengkam oleh impian tentang kemudaan yang rapuh itu dan hendak bergayutan abadi pada kemudaan impian itu. Umur sungguh aniaya bagi wanita.
-Pramoedya Ananta Toer-

Jeda

Saturday, February 10, 2018 0 Comments A + a -

Hari ini setelah ikut test murottal di ITB, yang berjalan lancar namun ternyata banyak sekali huruf ghorib yang missed, aku menunggu kaka depan masjid untuk menjemputku. Sambil menunggu, ada seorang bapak yang mengaku orang Jakarta, butuh bantuan untuk pulang, namun karena aku memasang defense (takut modus penipuan), aku mengaku tidak punya uang. Padahal? Aku punya. 

Setelah beliau benar-benar berangkat membawa dua tas besar, dan satu botol air hangat penuh, aku merasa bersalah sekali tidak bisa membantu. YaAllah padahal aku banyak sekali dibantu hari ini olehMu, tapi mengapa aku begitu kikir. Aku mengejarnya untuk menukar uang, tapi entah kenapa aku justru bolak-balik depan masjid, kikuk. Dan akhirnya, punggung sang bapak tak terlihat lagi. Aaah sedih. 

Kemudian, terus dalam usaha menombak waktu, aku membaca dua komik webtoon favoritku. Tapi kedua telingaku juga menangkap pembicaraan seru para konseptor yang sedang melingkar depan masjid. Tubuhku semakin dingin diterpa angin, dan aku menarik pikiranku kembali ke kampus bahkan sebelum jasadnya sampai kembali disana. Lalu aku tersadar, setiap orang dijatah waktu yang sama, melakukan hal yang berbeda-beda. Ada yang semakin mengukir kemenangan, ada yang hanya berpangku tangan. 

FAST FEB : Petuah Dari Luar Kelas

Thursday, January 18, 2018 0 Comments A + a -


Kembali lagi bersama agenda FAST! 
Kali ini aku jalan-jalan ke Jakarta, untuk ikut mendokumentasikan acara Reuni Akbar dan Peresmian FAST Fakultas Ekonomi dan Bisnis bersama Pak AT dan kakak-kakak DEA. 

Freelance : Meliput Bapak Menteri Sambil Dapat Teman Baru

Tuesday, January 16, 2018 0 Comments A + a -


Ada hikmahnya juga ternyata bisa minim di kegiatan organisasi semester ini. Aku bisa mencoba banyak sekali pekerjaan yang tidak terikat seperti bekerja lepas. Karena aku sedang senang-senangnya menjemput kesempatan, maka tawaran seperti ini langsung kuambil. Kalau belum tau ceritanya, coba baca dulu post ini : Menjemput Kesempatan

Menjemput Kesempatan

Friday, January 12, 2018 0 Comments A + a -


"Our Network is Bigger Than You Think"

Sebagai pribadi yang people person tapi super duper rumahan (kalo lagi liburan, stuck males ga bisa kemana-mana), aku akan senang sekali menyambut akhir liburan semester yang tinggal menghitung hari! Karena tandanyaaaaa, aku akan berpergian lagi, sibuk lagi, cape lagi dan bertemu dengan orang banyak lagi! Yeay! 

Tapi harus kuakui, akibat libur panjang tersebut, sering kali membuat diri ini terlalu nyaman tinggal di rumah, sehingga perasaan sedih berpisah dengan orang rumah tetap ada. Degdegannya serasa mau dipulangin ke pesantren. Maunya mewek aja minta pulang lagi. Hahaha padahal  mah umur udah 20 tahun,  x_x ya tapi gitu manjanya masih terpelihara. *Bukan cuma salah gue plis* 

Nah meski begitu, kepulangan aku ke Bandung kemarin, ternyata menjadi keputusan yang paling hebat yang pernah aku putuskan. Karena aku sudah mulai memaksakan diri untuk menjemput kesempatan

Cerita ini berawal dari dua hari yang lalu saat Pak Ferdian, salah satu senior yang baru-baru ini aku kenal, menawariku mengerjakan proyek alumni. Ia memintaku untuk pulang ke Bandung lebih awal agar bisa ikut mewawancarai dan merancang keleidoskop FAST. Tanpa pikir panjang, padahal aku belum izin mama papa, langsung kukatakan, yes dan aku akan segera caw! Mengapa senekat itu? Karena menurutku akan sangat keren bisa berkenalan dan duduk bareng bersama senior-senior yang sudah sukses. Ditambah pulak sebelumnya, sering aku mendengar kisah bahwa alumni-alumni yang tergabung dalam ikatan bernama FAST ini mulai menggarap hal-hal besar. 

Long story short, sampailah aku di Warung Pasta, Dago, bersama ka Fajrin yang "siap-siapnya" lebih dari satu jam. Lama banget ga tuh! Yang awalnya, diminta janjian sehabis maghrib, baru bisa berangkat saat adzan isya berkumandang. Indonesian. 

Setelah sampai di lokasi, ternyata sudah menunggu sambil mengobrol seru, orang yang sangat familiar bagiku, Pak Andika, CEO Mynet, yang menginterviewku di semseter lalu, dan calon investorku di semester lalunya lagi. Sisanya diantara orang-orang yang menyeruput kopi, belum ada satu orangpun yang kukenal, wajahnya bahkan namanya. Sampai akhirnya Kang Ahmad mulai memperkenalkan diri dan memperkenalkan siapa saja yang hadir dan kongkow saat itu diserta dengan latar belakang kesibukannya. Wow! Bukan main!! Orang yang duduk disini, ternyata adalah orang-orang hebat yang memiliki pengaruh besar di lingkungannya dan tentunya satu almamater denganku! Mantap!

Lalu, dari obrolan-obrolan ringan inilah, kang Ahmad mulai memperkenalkan apa itu FAST dan apa saja yang sudah dan yang akan diraihnya. Tanpa penuturan yang bertele-tele, aku dan ka Fajrin diminta untuk bisa membantu berkarya didalamnya dengan fasilitas-fasilitas yang pasti disediakan oleh alumni. Dengan catatan (yang kutambahkan sendiri), dengan hasil kerja yang juga harus setimpal.

Maka belum apa-apa benefit yang ditawarkan sudah sangat mengesankan. Dan terbayang pulak, dari proyek tersebut, tentu akan membuka sedikit demi sedikit jaringan raksasa yang apabila disyukuri dan dipergunakan dengan bijak, akan bermanfaat dimasa depan. 

Tak henti-hentinya hati ini mengucap syukur telah dipertemukan dengan orang-orang hebat malam kemarin. Tak henti-hentinya hati ini juga berterimakasih pada diri yang mau memaksakan diri untuk melawan kemalasan, melawan kenyamanan dan menjemput kesempatan. I am so proud of you my dear! Tentunya kesempatan ini bukan saja menjadi barang mewah bagiku, tapi menjadi beban moral juga yang memaksaku untuk terus mengupgrade diri agar bisa memaksimalkan tantangan-tantangan yang diberikan. 

Laa haulaa walaa quwwata illa billah, alhamdulillah di awal tahun sudah diberikan kesempatan yang luar biasa. Dimanapun teman-teman pembaca berada, semoga selalu dipertemukan juga dengan kesempatan-kesempatan emas, yang tentunya kesempatan tersebut bisa dimaksimalkan dengan sebaik mungkin. Aamiin :) 

Nilai A, Tapi Ngulang. Kok Bisa?

Tuesday, January 09, 2018 0 Comments A + a -


"Jangan ngulang mata kuliah, berat. Kau tak akan kuat, biar aku saja" 
-@renaldpputra-