Persiapan Khitbah

Sunday, May 26, 2019 1 Comments A + a -

Dalam waktu dekat ini, ya pertengahan tahun, insyaAllah pertemuan dua keluarga tersebut akan dilangsungkan secara formal. (Baca : Tentang Kita (In a Nutshell) | #menujupelaminan eps.1 ) Karena keluarga kita beda pulau (aku pulau Jawa (sunda) dan RRM Sulawesi (bugis)), segala proses pertemuan tentunya harus dilangsungkan secara efisien. Karena kita tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama. Mahal diongkos cyin. Makanya saat silaturahmi nanti kita putuskan untuk langsung melakukan proses khitbah, membicarakan tanggal pernikahan dan perihal lainnya. 

Untuk masalah cicin khitbah nanti, ibu RRM ingin menyiapkan perhiasan khusus untukku katanya, uwuwuwu :") Lucunya, aku dan RRM hunting cincin imitasi sebagai gambaran ukuran jariku. Karena lagi-lagi, hal ini dilakukan karena kami terhalang oleh jarak yang terlampau jauh.

Oya, awalnya cukup sulit mencari ukuran cincin yang pas di jariku, karena jariku memang super kecil wkwk. Saking frustasinya ga ada yang pas, niatnya, kita mau beli cincin imitasi ukuran anak-anak saja. Tapi ga jadi, karena mbaknya bisa menemukan ukuran cincin dewasa yang pas untukku. Yeaaay! 

Untuk harga cicin imitasi ini RRM beli di Sentra Grosir Cikarang dengan harga Rp.40.000,- huft, cukup mahal dan harga tersebut belum dengan kotaknya loh. Tapi gapapalah ya, daripada nanti cincin khitbahnya kegedean kaaan.  

Nah untuk persiapan lainnya kami membicarakan siapa saja yang akan diundang saat khitbah nanti. Awalnya, kami hanya akan melangsungkan khitbah tertutup antara keluargaku dan keluarga RRM. Tapi setelah didiskusikan dengan papah mamah, kami akan mengundang kerabat dan tetangga terdekat, plus ustadz ya. Tentu saja dengan mengundang tetangga seperti ini, kami juga akan menyediakan makan malam. 

Oya, karena perbedaan budaya, lagi. papah dan mamah juga memberikan banyak informasi mengenai prosesi khitbah adat sunda. RRM dibekali informasi bahwa di dalam adat sunda, biasanya si calon akan memberikan cincin dengan filosofi sebagai pengikat yang akan dipakaikan oleh ibunya atau saudara perempuan dari pihak keluarganya. Ia juga baiknya membawa parcel berupa buah-buahan dan kue sebagai bingkisan. Dan disarankan membawa 10% uang yang kemungkinan akan dihibahkan untuk ongkos pesta pernikahan nanti. (Tapi ini ga semua adat sunda gini ya, kami mengadopsi dari acara pernikahan yang biasa keluarga kami langsungkan)

Untuk pakaian sendiri, rencananya aku akan memakai abaya putih dan RRM menggunakan batik. Untuk makeup sepertinya akan menggunakan jasa teman, atau dandan sendiri, cuma ga yakin juga wkwk. Hijab style? pasti tidak akan banyak direka-reka, yang penting menutup dada dan nyaman. Aku juga tidak berniat untuk mendekor rumah, karena sayang aja ah cuma sehari dan bukan perayaan besar. Tapi untuk dokumentasi, aku masih pikir-pikir lagi nih, apakah akan menghire temanku atau meminta jasa adikku. Yang pasti nanti sesuaikan budget dulu deh ya :) 




Tentang Kita (In a Nutshell)

Saturday, May 25, 2019 0 Comments A + a -

Sejak pertengahan kuliah aku memang sudah minta ingin dipinang. Tapi papah mamahku terus menahanku untuk berpikir lagi dan tidak terburu-buru. Karena aku juga perlu menikmati masa muda dan sekolah hingga selesai. Akhirnya aku menuruti permintaan mereka dan karena saat itu memang belum ada calonnya juga sih :") hahaha bodoh ya. Untungnya selama menyelesaikan studi, aku bertemu dan mulai mengenal RRM sebagai senior yang sangat asyik untuk diajak diskusi dan bercerita.

Setelah merasa cocok, aku langsung mengenalkan RRM kepada orang tuaku. Saat itu RRM sudah lulus dan bekerja sebagai manager IT di sebuah start up. Tapi ternyata jabatan manager disebuah start up belum cukup berarti untuk papahku. Papah meminta RRM untuk melamar di perusahaan BUMN. Dan dang, karena satu dan lain hal, RRM resign dan melamar di salah satu anak BUMN, dan diterima. Semudah itu 😌 (beda dengan aku yang melepas status nganggur bisa sampe 5 bulan lamanya hiks hiks)

Meskipun RRM sudah bekerja, jarak umurku dengannya hanya 2 tahun. Karena umurnya yang masih muda, papah mamah masih belum juga mengijinkanku untuk menikah. Belum matang katanya. Dan aku sendiri, masih tingkat akhir saat itu. Yasudah, niatku untuk menikah muda kian hari kian kulupakan. Ku gantikan dengan kesibukan membuat skripsi dan berjualan.  

Namun sekarang, setelah lulus, ternyata niatanku untuk menikah cepat masih juga terhalang wkwkwk. Hal itu dikarenakan masalah finansial keluargaku yang sedang repot. Awalnya aku dan RRM sudah memilih tanggal pernikahan, tapi orang tua mengusulkan tanggal di bulan syawal. Padahal 2020 kami sudah ingin Ramadhan bareng huhuhu tapi apalah daya. Akhirnya kita berdiskusi lagi untuk merencanakan tanggal baru. Sebenarnya perkara memilih tanggal ini tidak akan pasti sebelum melangsungkan khitbah, hingga adanya pertemuan dua keluarga. Jadi segala kemungkinan memang masih mungkin terjadi. 

Sambil menunggu waktu, kami khususnya aku, mulai menonton dan membaca-baca artikel mengenai wedding on a budget. Ya seperti biasa, dalam segala perayaan, aku ingin perayaan yang simpel dan sederhana saja. Lebih baik uangnya di alokasikan ke kebutuhan setelah menikah bukan? Ya tapi namanya menikah, yang diundang bukan hanya teman-temanku dan teman-teman RRM, tapi teman-teman orang tua juga. Jadi memang lebih berat kepada hajatannya orang tuanya sih wkwk usaha yang bisa kulakukan sekarang adalah pintar-pintar bernegosiasi dalam merencanakan pengeluaran.

Mengenai rencana pengeluaran dan persiapan lainnya, akan aku update di postingan selanjutnya ya dengan tagar #menujupelaminan. InsyaAllah. Bagi yang kepo dan sedang butuh informasi tersebut, keep on reading okey wkwk.  Siapa tau kita bisa saling tular informasi vendor yang murce dan informasi tersebut bisa bermanfaat ya kan? :P


Jangan Asal Menyerap dan Menyebarkan Informasi

Wednesday, May 22, 2019 0 Comments A + a -


Pagi ini bangun tidur, grup WA sudah ramai dengan puluhan pesan yang belum dibuka. Tadaaa, benar saja, grup sudah dipenuhi dengan disturbing picture dan video. Jujur, baru bangun dan langsung nonton hal seperti itu, bikin trauma dan panik berlebihan. Terlebih besok aku ada urusan ke Jakarta dan ini bikin aku dan keluarga makin ga tenang. Tapi, ya mari kita lihat situasinya terlebih dahulu. 

Setelah kenyang scroll up chat yang tertinggal, aku mulai cek tagar Instagram mengenai #peoplepower. Oke informasinya gajauh beda dengan informasi di grup WA. Menakutkan. Ga ada satu gambarpun yang berani aku buka. Cuma berani lihat-lihat thumbnail sampai ke bawah aja. Setelah itu aku memutuskan untuk cek informasi dari platform berita yang aku install di hp. 

Awalnya aku agak males baca berita, karena takut informasinya tidak berimbang. Karena bagaimanapun, aku juga tidak membenci orang-orang yang berdemo. Ada beberapa value yang aku dukung dari aksi yang mereka lakukan. Meskipun aku pikir, tentu masih ada strategi dan jalur lain yang bisa dieksekusi. Tapi biarlah, demo juga hak kebebasan berpendapat. Jadi sah sah saja mereka melakukannya. Hanya saja tetap, aku butuh informasi berimbang. Dari pihak keamanan dan juga demonstran.  

Dan ternyata, memang betul, 5 jam yang katanya "mencengkam" itu, dipicu oleh beberapa hal yang menyebabkan pihak keamanan beraksi. Kalo kita tidak berani melihat fakta tersebut, tentu kita akan semakin terprovokasi dan terus playing victim. I know i know, kamu pasti masih membela demonstran kan dan juga menyalahkan media-media yang menggoreng berita semakin hot? Tenang-tenang, sekali lagi mari kita lihat situasinya. 

Memang dibalik media hari ini yang begitu banyak didukung oleh kepentingan, membuat kita semakin antipati dengan hal apapun yang mereka beritakan. Tapi tindakan menyerap informasi dari sumber yang tidak kredibel juga merupakan tindakan yang lebih buruk lagi. Kita perlu membaca situasi secara menyeluruh. 

Baik, tidak perlu percaya 100% kepada media, tapi dengarkanlah opiniku. Dalam satu berita yang dimuat, ada reporter lapangan yang bukan hanya satu orang yang bertugas menangkap berita, ditambah tersedia satu penulis yang menulis berita dari segala informasi yang telah dikumpulkan, dan tentu saja, pasti ada editor yang mengawal berita agar layak untuk dipublikasikan. Dan seharusnya, berita-berita tersebut dijaga karena ada kode etik jurnalistik yang harus diperhatikan. Menurutku beberapa berita juga mendampingi pembacanya agar tidak takut dan panik dengan kejadian yang sedang terjadi. Kalimat preventif ini tentu baik, untuk menenangkan psikologi pembaca yang sedang panik. 

Aku makin menyadari bahwa, menyerap informasi tidak boleh gegabah. Dan menyebarkan informasi juga jangan seenaknya. Perlu tanggung jawab. Karena kita tidak tau efek apa yang akan timbul bagi mereka yang menerima. Bisa jadi trauma, bisa jadi makin brutal. #SaveIndonesia.