Manis-Manis Coklatku

Wednesday, March 14, 2012 0 Comments A + a -




Sudah satu minggu coklatnya kusimpan. Bukannya tak mau kubuka. Tapi sayang bukan main makannya. Hehehe. Haduuh, rasanya aku senyum-senyum terus. Terkena sindrom jatuh cinta,mungkin. Tapi biarlah, aku benar-benar menikmatinya.
26 September 2011 yang lalu, umurku genap 14 tahun. Keluargaku tak membiasakan adanya perayaan ulang tahun. Jadi ulang tahunku kemarin biasa-biasa saja. Tak ada yang spesial. Bahkan mamahku baru kirim pesan setelah esok harinya. Paling hanya ucapan-ucapan ulang tahun yang memenuhi dinding facebookku.
 Oh ya, diantara ucapan-ucapan ulang tahunku, terselip satu ucapan singkat tapi memikat hati. Hmm, ucapan dari kakak kelasku. Ah, biasa saja. Benar-benar biasa. Mungkin dia tak bermaksud apa-apa. Hanya bersimpati untuk give greeting di hari spesialku. Ya meskipun satu bulan terakhir aku dekat dengannya, tapi kami hanya teman biasa. Hubungan antara adik kelas dan kakak kelasnya. Tak lebih.
Aku berangkat sekolah seperti biasanya. Ketika melangkah ke depan pintu kelas, aku baru teringat. Kelasku punya tradisi yang menyebalkan namun menyenangkan.Jumlah murid di kelas ku ganjil, berarti ada satu kursi yang tak punya pasangan. Biasanya kursi ini dipakai untuk mereka yang berulang tahun. Posisi kursi itu tepat berada di depan meja guru. Kotor .Penuh coretan kapur,kursi yang rapuh. Benar-benar tidak nyaman.
Sudah kuduga, teman-temanku telah bersiap menyambut kedatanganku di kursi panas itu. Dengan berat hati kusimpan ranselku di atas meja. Tak masalah,aku tak’n mengeluh. Kapan lagi ulang tahun. Hanya satu tahun sekali kan. Paling aku hanya merengek jika teman-temanku sudah bertingkah keterlaluan.
Jam pelajaran satu persatu dilalui.Sempat-sempatnya aku berkhayal flash back ke masa dulu. Tahun lalu aku dapat boneka beruang mungil dari kakak. Tapi SMA diluar mungkin telah membuatnya sulit atau bahkan lupa untuk memberiku hadiah lagi. Tidak apa-apa. Lagipula aku bukan anak kecil lagi yang selalu menginginkan hadiah. Aku hanya berharap,kelak aku akan menjadi manusia yang lebih baik di masa yang akan datang. Iya kan?
Tiba-tiba kuterbangun dari lamunanku. Tidak! Buku catatanku diambil Leady! Aduuh didalamnya ada sedikit curahan hati yang kutulis kemarin.
“Leady balikin dong”, aku merengek-rengek tak rela.
“ooo, tidak bisa! Liat aja nanti habis istirahat leady kasih ke away!” Leady justru menantangku.
“yaaah.. jangan! Please!”
Kurebut buku catatan itu dari tanganya. Sial! Aku tak dapat meraihnya. Dialempar  kesana kemari. Teman-teman juga turut membantunya. Rasanya aku ingin  nangis saja. Tapi itu takan berguna.
Ku kejar Leady sampai ke luar kelas. Tiba-tiba ada yang memanggilku.
“Aull”, aku tersentak kaget. Kukira siapa. Ternyata akhi rija dan akhi zaki memanggilku.
“Apa khi?”, tanyaku keheranan
“ Hari ini ulang tahun ya?”
“ya. Hehe” aku menjawab kikuk seadanya.
“ Selamat ulang tahun ya. Oh ya tuh brother sweet (nama samaran) mau kasih hadiah katanya.”
“ah masa khi?”
“Ah pastii seneng yaaa?” akhi rija malah menggodaku.
“Auuuuuuullllll!!” tiba-tiba ada yang meanggilku lagi. Tapi sumber suara berasal dari dalam kelas.
“Ya ampun. Akhi dah dulu ya, dipanggil sama temen”
“ oh ya udah atuh”, tanpa menoleh lagi aku langsung berlari kedalam kelas.
“Mau diambil ga nih bukunya? Atau mau di kasih aja ke Away?!” Leady mengolok-olokku terus sambil memamer-mamerkan buku kecil berwarna oranye itu.
“Leady udah dong balikin bukunya!”
“Ga mau! Ecaa tangkep”
“aaaah! Siaaal!! Balikin dong! Pleasee!!!”
Leady berlari keluar kelas. Aku mengejarnya terpogoh-pogoh. Tak sadar lagi ada yang memanggilku. Aku terus mengejar Leady. Ketika ku melihat ke samping kanan dekat meja piket, Brother sweet melihatku kerepotan. Dia tersenyum. Ya Allah, manis sekali dia. Ah aku sampai lupa. Tak peduli yang penting buku catatanku harus kembali. Ku kejar lagi Leady. Tapi tetap saja tak sampai-sampai. Aku lelah. Biarlah.  
Aku kembali ketempat duduk. Buku catatanku tak berhasil kudapatkan. Akhirnya aku memilih untuk diam saja. Nanti juga leady cape sendiri. Kugunakan waktu yang masih tersisa untuk beristirahat sebentar,sepertinya pak Taufik akan masuk sebentar lagi.
Pelajaran usai. Aku kembali ke kamar. Aku lupa dengan hari ini. Aku sibuk harus mempersiapkan ABC nanti malam. Yah, hingga menjelang magrib, aku mempersiapkan segala sesuatu untuk ABC nanti malam.
Magribnya 9c berkumpul di kamar Ahmad Badawi. Tidak ada hapalan magrib itu. Sekedar baca Quran lalu bercerita ringan. Saling bercanda dan seperti biasanya Leady memainkan banyak lelucon. Oh ya, aku teringat lagi. Sekali lagi aku menagih buku catatanku. Hey hari inikan sudah hampir berakhir! Kurasa Leady pasti akan mengembalikan.
Ternyata dugaan ku meleset  180* derajat. Bukannya dikembalikan Leady justru benar-benar memberikan buku catatanku ke Away. Aaaah aku stress! Ini benar-benar sudah keterlaluan.
Terserah! Aku benar-benar sudah lelah. Aku pulang ke kamarku. Setengah berlari agar cepet sampai. Aku benar-benar tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya buku itu ada ditangan Away. Aku segera duduk di belakang kasurku. Menangis sejadi-jadinya. Menutup mata, berteriak, tak peduli siapapun yang lihat. 
Tidak lama kemudian, teman-teman menghampiriku. Bertanya sebabku menangis. Kujelaskan sambil memaki-maki. Aku tak sadar ternyata Mutia malah merekamku. Ya Allah apa-apaan ini.  Leady pun datang. Bertanya ini itu. Aku sebal bukan main. Sudah tau dia salah. Tapi masih saja mengolok-olokku. Tak kuat lagi, aku naik ke atas kasurku. Teman-teman semakin banyak yang datang. Kututup wajahku dengan bantal mickey mouse yang sebenarnya kado 2 tahun lalu dari ukhti Henda.
“hhuhuhu.. kenapa coba Leady mesti kasih bukunya ke Away! Kan disananya juga banyak rahasianya.”,aku mengomel sambil terisak-isak.
“ Ka Aull, Leady mau jujur.” Leady mencoba untuk membuka bantal yang kututupi ke muka.
“Ga mau, tau ah!”
“Yah, yang ulang tahun teh gak rame ah. Pundungan gini mah”, eka ikut berkomentar.
“ Atu da bund. Ini mah tega banget. Masa buku curhatan aull dikasih ke banin sih”
“Kak aull! Makanya dengerin dulu. Da sebenernya bohong! Nih bukunya! Hahahahahaha”
Aku mencoba mengintip dari balik bantal.Takut-takut Leady berbohong lagi. Ternyata yang dia katakan kali ini benar. Akupun tersenyum malu-malu. Teman-teman menyorakiku. Aku maluu sekali. Mataku sudah sembab, hidungku juga bengkak. Belum 5 menit buku oranye itu ditanganku, Milana sudah merebutnya lagi dariku. Pada akhirnya aku malah bermain kejar-kejaran. Hahaha, kurasa hariku hari ini menyenangkan. Meskipun sebelumnya jengkel benar. Tapi, cukup meninggalkan banyak kesan kok.
Setelah salat isya, aku bergegas untuk ekskul jurnalistik. Sebenarnya malam itu juga aku harus rapat. Tapi, karena harus mengejar target edisi baru, maka aku izin untuk tidak ikut rapat malam ini.
“Ukhti nadifa... aull izin dulu ya gak ikut rapat.”
“Kenapa ull, bilang aja langsung ke Brother Sweet”, ukhti Nadifa juga terlihat sedang memburu waktu.
“ok.”
Segera ku bergegas kedepan gerbang untuk menemui Brother Sweet. Tak sulit untuk menemukannya. Dia sudah stay sedari tadi.
“Akhi, aull izin dulu ya, mau ABC.” Sambil memalingkan muka. Takut Brother Sweet lihat muka merahku sehabis menangis.
“oh iya, gak apa-apa.”
Aku segera berlari menuju kelas karena sedari tadi teman-temanku telah menunggu di kelas. Rasanya malam ini juga terasa indah. Teman-teman mengerjakan tugasnya dengan baik. Mudah di atur pula.
Jam 10 malam. Angin telah menampakan hawanya yang menusuk tulang. Dingin yang aku rasakan. Aku dan Mutia bergegas menuruni tangga menuju majalah dinding lorong. Memasang hiasan pada lay out. Sesekali aku menengok ke arah kamar lurus yang tepat berada diujung sana. Ku lihat tanda-tanda  keberadaanya. Kurasa para penghuninya sudah tak melakukan aktivitas apapun. Lampunya pun terlihat mati. Sepertinya mereka telah pergi tidur.
“Yaa., i can’t hope more, Mut! J
“yaa kak.. udahlah gak apa-apa,, don’t hope more!”
“iyaa.. dia kan bukan siapa-siapa kkak ya? Hhu “
“hahaha” Mutia hanya tertawa kecil. Ya setidaknya dia bisa mengerti sedikit apa yang kurasakan.  Sudahlah. Aku takan mengharapkan hadiahnya.
Selesai sudah. Kamipun kembali keatas untuk persiapan menempel artikel, gambar dan sebagiannya. Setengah 12 malam. Padahal janjinya kami akan pulang ke kamar jam 10. Ah tak apa sedikit melanggar. Lagipula kunci gerbangnya ada ditanganku. Tapi sesegera mungkin kami menempel segala artikel, gambar dan sebagainya ke mading. Selain sudah terlalu larut malam kamipun sudah lelah. 
Hanya perlu waktu 20 menit, mading selesai dihias. Ya,cukup puas :D. Sedikit motivasi, penutupan lalu pulang menuju kamar masing-masing Selesai . Aku pulang bersama Mutia dan Lyshe.
23.55. Tiba-tiba ada yang memanggilku dari balik jendela. Kaget bukan kepalang, memberi isyarat untuk menghampirinya. Ternyta ukhti Rifa. Kulangkahkan kakiku di kesunyian malam menuju kamarnya.Ukhti Rifa menyodorkan kresek putih. Ternyta coklat isinya.
“Nih, dari brother sweet ull.” Ukhti Rifa setengah berbisik, takut suaranya menggangu yang sudah tidur.
“Wah yang bener ti?” aku melotot setengah tak percaya.
“iya bener J. Happy birthday juga katanya.”
“Wah, asiik. Makasih gitu ya ti.”
“iya siip.udah gih ke kamar. Udah malem juga tuh”
“oh iya. Syukron ya ti. Assalamu’alaikum”
“ya afwan. Wa’alaikumslam”
Aku memegangi plastik putih itu. Masih belum percaya. Terus saja berpikir benarkah ini terjadi. Kubuka pintu kamar.Bibirku tersenyum lebar. Teman-temanku yang masih bangun tak begitu memeperhatikan.Ah, i don’t care . Really i’m very happy today. Hihihihi :D
Ya senyum itu masih tersungging meskipun telah seminggu berlalu.  Senang bukan main. Hahaha. Sekedar  informasi. Coklat pemberiannya kumakan dan kubagikan untuk teman-teman yang punya masalah juga. Jadi tenang saja, coklatnya sungguh bermanfaat. Aku senang dapat berbagi rasa manis coklat yang kudapat kepada teman-teman yang lain. Uuh sungguh manis coklatku :D Coklat spesial dihari spesial dari orang terspesial. Hahaha


Telkom University - Ilmu Komunikasi (Broadcasting)
Scriptwriter | Journalist | Editor | Pejuang Quran, She is