Ketika Malas Membaca Quran

Friday, June 16, 2017 1 Comments A + a -



x : Bagaimana sifat wanita akhir zaman?
y: Mereka terlalu sibuk memikirkan soal jodoh dan bakal imam, namun jahil dalam Al-Quran."
Well, pertama kali aku mendapat nasihat ini sebenarnya direksi katanya bukan jahil terhadap Al-Quran, tapi "bakhil terhadap Al-Quran". Eh ternyata kebanyakan netizen atau memang si pemberi nasihat membuatnya dengan kalimat diatas. Terlepas dari itu, intinya sama-sama saja bahwa wanita akhir zaman sebagian diantaranya mulai tidak lagi menaruh perhatian lebih terhadap Al-Quran. 

Padahal kalau papah bilang, "Jodoh itu sudah pasti kamu punya teh, gausah khawatir. Ia akan datang sendirinya. Tapi kalau hapalanmu itu, ga akan tiba-tiba kamu hapal gitu aja. Perlu ada usahanya". Ya, walaupun aku percaya kalau Allah mampu-mampu saja untuk memberikan keajaiban berupa diturunkannya Al-Quran dalam ingatan dan kalbu seseorang dalam satu malam, kan itu bukan hal yang mustahil hehe. Tapi karena orang tua yang nasehatin, mari kita renungkan. 

Ustadz Adi Hidayat Lc sering menyisipkan kalimat ini dalam ceramah-ceramahnya, "Ada orang, bukan imam besar, belum hapal Quran, belum tau hadits, menulis kitab tidak, tapi santai-santai aja dan merasa aman dengan hidupnya"  Ini berupa kalimat pedas yang seharusnya mampu menggetarkan hati kita bahwa, orang soleh seperti Nabi dan sahabatnya terus berupaya memberikan ibadah terbaik sesuai dengan kemampuannya tanpa meninggalkan dunianya dengan sebaik mungkin. Sedangkan kita, semangat membaca dan mentadabburi Al-Quran atau tilawah kita biasa sebut itu dalam prakteknya masih saja naik turun. Wajar memang hal itu terjadi di zaman sekarang, dimana banyak sekali hal yang mampu mengalihkan perhatian. Tapi kan ya.. suka sedih. 

Jangankan dibulan-bulan biasa, di bulan Ramadhan yang Allah jamin pahalnya berlipat-lipat ganda saja masih belum mampu memotivasi kita untuk bisa memberikan usaha lebih. Boleh jadi, sebaris dua baris saja, lembar Al-Quran dalam sehari tidak dapat. 

"Eh tapi Ul, kalo gitu, ibadah lebihnya gara-gara Ramadhan aja dong?" 
Ya memang kenapa??
  


شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ 

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (Q.S Al-Baqara : 185)


Momentum Ramadhan dipergunakan dengan sebaik mungkin itu keren. Ramadhan juga jadi bulan latihan agar bulan-bulan kedepannya kita bisa makin cinta, agar bulan-bulan kedepannya kita terbiasa menjaga Al-Quran. Bukannya begitu? Iya sepertinya begitu karena aku pun sedang belajar dari tahun ketahun untuk seperti itu. 

Lalu bagaimana ul solusinya ul menurut Aul supaya kita ga males baca Al-Quran? Mumpung Ramadhan masih tersisa 9 hari lagi nih, insyaAllah. 

Hahaha, kayak sok iyeh banget nih aku ngasih nasihat begini, tapi sebenarnya tulisan ini dibuat karena aku juga sangat-sangat resah, setelah pulang dauroh kemarin, aku justru mulai kendor, sangat kendor sebenarnya. Jadi ini juga ditulis untuk pengingat aku okay, tidak bermaksud menggurui pembaca yang budiman ya! Yok bismillah sama-sama ngulik. 

1.  Banyak-banyak beristighfar dan perbaiki sholat 
Apalagi yang menghalangi kenikmatan kita beribadah kepada Allah selain dosa-dosa yang menutupi hati kita coba? So, istighfar sebanyak mungkin, boleh jadi keinginan dan kenikmatan kita dalam membaca Al-Quran itu karena terhalang dosa-dosa kita 😣 Perbaiki hubungan kita terhadap Allah dalam sholat ini juga ngaruh banget, mudah-mudahan Allah turunkan hidayah dan rahmat kepada kita agar kita diberikan karuniaNya betah berlama-lama dengan surat cintaNya. Agar apa yang kita baca dari kalamNya itu juga mampu menambahkan keimanan juga memberikan manfaat bukan celaka. Aaamiin.

2. Semuanya dipengaruhi oleh INPUT 
Bunda pernah bilang, "Anak-anaku, semua permasalahan di dunia ini mudah diselesaikan, cukup kalian tau polanya, tau akar masalahnya. Caranya, identifikasi input, proses hingga outputnya." Nah, cocok! Uwaku selalu berpesan dengan tidak jemunya, "Teh Aul, ingat, lubang hati itu ada 4. Dimana lubang itu yang akan sangat mempengaruhi isi hati kita. Pendengaran, Pengelihatan, Pemikiran dan Pembicaraan. Kalau kita pergunakan keempatnya dengan hal baik, insyaAllah hati kita akan terisi dengan hal baik. Kalau isi hati kita baik, baiklah keseluruhan jasad, kalau buruk, buruklah seluruhnya, maka hati-hati!"
Soooooo, untuk bisa menjadikan Al-Quran agar semangat dibaca, selalu dalam genggaman, ya input segala hal yang berbau ke-Quran-an melalui 4 lubang hati tadi.




3. Stay Foolish Stay Hungry! Temukan cara lain berinteraksi dengan Quran!  
Saat Bincang-Bincang Quran tahun kemarin bersama Madrasah Quran Syamsul Ulum, Ka Huda dari tim Aya-Ayat Semesta sebagai pemateri menyampaikan,
 "Sudahkah kita memperlakukan al-Qur'an sesuai dengan fungsinya yaitu pedoman hidup kita yang Syumul tersebut? Apakah hanya sekedar bacaan? Hafalan dan rutinitas sehari hari saja? Kalau hanya seperti itu al-Qur'an tidak jauh kita perlakukan hanya sebatas ritual saja.
Walaupun dalam konteks lain, membaca dan menghafalkan al-Qur'an memang pahala nya sangatlah besar, sebaiknya memang kita tidak berhenti hanya membaca dan menghafalkan. semuanya itu kesatuan yang tidak terpisahkan.Namun demikian, pengetahuan umat Islam tentang al-Quran tidak jarang dipahami sangat dangkal dan sempit. Universalitas al-Quran kemudian direduksi hanya menyangkut persoalan fikih, tasawuf dan politik (siyasah) saja. Umat Islam justru banyak mengabaikan pesan-pesan al-Quran yang berkaitan dengan persoalan-persoalan metafisik (kealaman). Ada kesan bahwa persoalan-persoalan kealaman bukan bagian dari persoalan ukhrawi.Banyak pemahaman sekarang, agama dan sains itu terpisah. Agama ya agama, Sains ya sains. Sendiri sendiri.itu salah besar. Memperhatikan pereduksian al-Quran dan Islam sedemikian sempit, akhirnya Agus Purwanto, D. Sc., seorang doktor fisika teori alumni Universitas Hiroshima Jepang dan kader militan Muhammadiyah yang juga dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, berupaya keras untuk menjebol kesempitan tersebut. Dengan kepakaran dalam fisika teori, dia berusaha melihat keunggulan Islam dari sisi yang lain. Kesadarannya sebagai seorang saintifik muslim, Agus Purwanto yakin bahwa kebangkitan Islam saat ini hanya dapat diwujudkan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.Dengan melandaskan pada tafsir al-Jawahir karya Guru Besar Universitas Kairo, Syaikh Jauhari Thanthawi, Agus Purwanto bermaksud menggedor kesadaran umat Islam – utamanya kalangan akademisi – bahwa sesungguhnya ada 750 ayat kauniyyah dalam al-Quran yang terselip di antara 6236 ayat. Sedangkan ayat-ayat fikih tidak lebih dari 150 ayat saja. Tapi anehnya, mengapa para ulama lebih banyak menghabiskan energinya untuk membahas persoalan fikih – yang justru sering memicu perseteruan dan konflik antar umat Islam – daripada membahas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan dan kelap-kelipnya bintang, gerak awan di langit, kilat dan petir yang menyambar, malam yang gelap gulita dan fenomena keajaiban alam lainnya.Ini dari sisi perbandingan jumlah ayat, tanpa menafikan perlu juga kita mengkaji ayat2 fiqih tersebut
Kalau kebanyakan ulama saja belum memaksimalkan seluruh ayat-ayat Al-Quran apalagi kita yang cuma baru berkutat sama tajwid (yang padahal ilmu ini juga kalau diulik ga pernah habis-habis sih hehe), ya pantes boseeeeeennnn! Nah makanya, kalau mulai jenuh, Aku percaya bahwa Al-Quran itu punya banyak sisi menarik yang bisa diulik. Jangan cuma dibaca tapi miskin makna. Kita bisa ulik ulik dari kitab-kitab pendukung lain, membahas dari segi bahasa, dari segi tafsir, dari segi ilmu pengetahuan populer, dari segi sejarah, dan lain-lain. MasyaAllah banyaknya.

Kemudian, selain belajar dan mengulik sendiri, ayo kita pergi mencari guru untuk mentadaburinya, diskusi dengan teman soal permasalahan umat hari ini, yang pasti akan sangat relevan jika solusinya dicari dari kitab yang petunjukmya Allah langsung beri. Seperti kutipan dari pemikiran Fazlur Rahman ; seorang pemikir dan pelopor Islam modernis asal Pakistan berikut,
"Sekarang kalau kau memang kita percaya Al-quran itu sifatnya universal yang kandungannya akan selalu relevan untuk setiap perubahan zaman, maka belajarlah tentang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk bisa menegaskan pada dunia kalau kandungan al-quran itu tidak akan termakan zaman. Jangan jadikan dialektika dan mencari pembenaran sana sini sebagai kedok menjaga sifat malasmu untuk memahami ummat zaman sekarang." 
Kita yang muda-muda yang mengetahui bahwa banyaaaak sekali permasalahan ummat yang harus kita selesaikan dan ya memang sudah masanya kita yang menggerakan, akan sayang sekali kalau belajar banyak ilmu tapi tidak ditunjang dengan Al-Quran.

Nah karena melihat banyaknya tugas yang harus kita emban, maka sudah seharusnya makin meningkatkan keinganan untuk membuang rasa malas dan PEDEKATE secara serius sama Al-Quran. Kalau kita mulai malas, kita perlu mengingat-mengingat tugas yang diatas dan menemukan cara-cara menarik supaya ga kalah seru main sama gadgetnya hehe.


4. Berdoa
Satu-satunya senjata umat Islam yang paling mantap. Allah kuasa makhluk tak kuasa. Ia mampu membalikan siang menjadi malam, bagiNya segala mudah, apalagi hanya menghilangkan sifat malas kita, betul?  Nah mari kita mengambil wudhu, lalu beristghfar dan bersholawat atas nabi, kemudian berdoa agar dihilangkannya sifat malas kita itu. 


Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)
Nah semoga sifat malas kita ini sembuh ya huhu :"D Aaamiin. 

Btw, dicukupkan segini dulu ulikannya, mohon maaaf kalau masih banyak salahnya. Hanya Allah Yang Maha Benar :) Kalau teman-teman berniat untuk beri kritik dan saran aku sangat sangat menerima. ^^

Pesan terakhir, "Jika kita belum mampu berlomba dengan orang soleh meningkatkan kebaikan, sebaiknya berlomba dengan para pendosa untuk memperbaiki diri." -Ustadz Adi Hidayat Lc. 
Semangat!! 


Telkom University - Ilmu Komunikasi (Broadcasting)
Scriptwriter | Journalist | Editor | Pejuang Quran, She is

1 komentar:

Write komentar
Unknown
AUTHOR
16 June 2017 at 11:47 delete

Mantap aul, butuh nih yang begini. Semangat terus memotivasi temen2 dan menginput 4 lubang hati dengan kebaikan:)

Reply
avatar