The Soul's Search For Meaning

Saturday, March 25, 2017 0 Comments A + a -

We're in 2017 now
"I'm still the same person I was in the other years before. Like you guys know, I always failed at making any new year's resolution, so I decided not to make one ever again. Nah I'll be doing that if I see some possibilities to change my life a little bit." - Gita Savitri on her blog
Barang kali aku tidak mendapatkan apa yang aku cita-citakan karena aku begitu memperhatikan citraan pada dunia maya. Aku banyak khawatir dan memikirkan orang bilang. Kadang keinginan mencapai popularitas itu berteriak sahut-sahutan. Ingin terus dipandang baik juga lama-lama menenggelamkanku pada ketakutan. Ingin ku sampaikan ada saatnya aku ingin menggunakan sapaan "gue" yang mungkin terkesan bagaimana. Bodo amat. Dulu juga aku sering menggunakannya ko. Karena terlanjur "dipandang" lembut aja rasanya jadi canggung. Dalam kehidupan sehari-hari juga, he :"D biasa aja,

Masa bodo dengan masa depan blog ini yang isinya curhat semua, memang kenapa? Rasanya aku begitu mengharapkan pandangan baik bahwa aku itu alim? Siapa yang bilang! Itu kan hanya perkiraanmu saja, ul. Makanya kau takut untuk melakukan hal-hal biasa yang sebenarnya ingin sekali kamu inginkan. 

"Tulisanmu begini ga dewasa ul!"
Bodo amat ini blog gue!  

Sesekali seseorang perlu menyampaikan diri yang sebenarnya tanpa topeng cantik menutupi. Demi kesehatan jiwanya. Dodie di vlognya juga sering melakukannya. Aku salut. Ya memang kenapa! Aku ingin sembuh dari jeratan tipuan atas segala citraan yang dibalut hanya untuk membahagiakan orang lain. 

Rasanya aku juga lelah dengan instagram. Aku memang senang memainkannya, tapi sepertinya jiwaku makin ga sehat berlama-lama disana. Aku rawan sekali membandingkan diriku dengan orang lain. Dengan temanku yang lebih sukses, yang lebih hits, yang lebih "terlihat" sangat baik, yang syari'i, yang kreatif, yang cantik, yang produktif, yang soleha. HAAAAAAAAAAAAAAAH! Mau dibilang naif, tapi itu efek. Dan bagaimana bisa menghindari tanpa sikap yang dewasa. Perlu belajar tak apa mundur bagai busur panah. Mungkin bisa kembali bisa juga tidak lagi. Kalau niat dan sikapku sudah dirasa dewasa menyikapi segala hal disana, kalau aku sudah bisa banyak berkontribusi. Lets sail once more. 

Maka dari itu, aku perlu membentuk paradigma baru dalam memandang hidup. 
Dan Entah aku sedang berada di banyak tempat yang salah, entah aku yang salah disemua tempat. Aku ingin resign dari hal yang begitu menekanku. Dan aku ingin bertobat terhadap banyak hal yang aku lakukan untuk membebani orang lain. Aku ingin jadi (((((orang biasa))))) dulu. Yang DAMAI. Sehingga aku bisa melewati usia dua puluh tahunku dengan baik. Tanpa Resolusi Tanpa Penipuan Tanpa Pencitraan.

 Dan aku ingin menghilang dari kerumuman orang. Aku bertobat dari budak popularitas. 

"Kuburlah dirimu ditanah kerendahan karena sesuatu yang tumbuh tanpa dikubur (ditanam) hasilnya kurang sempurna." - Ibnu Atha 'illah al-Iskandari- 

Aku ingin mengubur diri. Menarik diri. Untuk bisa menjadi pribadi yang pasti akan lebih baik. Tidak pesakitan seperti sekarang jiwanya. Aku yakin, mutiara itu berada didasar lautan. Yang dipermukaan hanya sampah mengambang, berserakan. 


Maka kuazzamkan, kumatangkan hidupku. Bismillah. Post esok hari mungkin akan lebih bodo amat. Tapi itulah diriku tanpa citraan. Maka jangan berharap apa-apa tentang diriku lagi. Supaya aku tak begitu tersiksa, memikirkan pengharapnmu. Hahahaa.. 
Tapi kau akan lihat  itulah diriku, yang akan kubagi setulus hati. 


Telkom University - Ilmu Komunikasi (Broadcasting)
Scriptwriter | Journalist | Editor | Pejuang Quran, She is